Materi 12 dari 27
Deret Angka dan Pola Bilangan
Langkah memeriksa pola deret: selisih bertingkat, deret melompat, deret Fibonacci, dan kombinasi operasi, termasuk kapan cara cepat tidak bisa dipakai. Dilengkapi 11 contoh soal dan pembahasan.
Soal deret angka di TIU memberi barisan bilangan, lalu meminta satu suku yang hilang atau suku berikutnya. Kalau polanya sudah terlihat, soal ini termasuk yang paling cepat dikerjakan. Kalau belum, peserta bisa menatap barisan yang sama berulang kali tanpa kemajuan.
Penyebabnya biasanya sama: peserta langsung mencari selisih antara suku pertama dan kedua, lalu menyerah ketika selisih itu tidak teratur. Padahal pembuat soal sering memakai bentuk lain, seperti dua barisan yang dijalin selang-seling, selisih yang baru teratur di tingkat kedua, atau suku yang dibentuk dari penjumlahan suku sebelumnya.
Materi ini mengajarkan satu urutan memeriksa yang selalu bisa dipakai, lalu enam pola yang paling sering muncul, lalu tanda-tanda kapan cara cepat justru menyesatkan.
Cara yang pasti jalan: tulis selisihnya
Sebelum belajar cara cepat, pegang dulu satu cara yang hampir selalu memberi petunjuk: tulis selisih setiap dua suku berdekatan tepat di bawah barisannya. Cara ini lambat sedikit, tapi jarang menipu.
Deret: 3 5 9 15 23
Selisih: +2 +4 +6 +8
Setelah selisih tertulis, ada tiga kemungkinan:
- Selisihnya sama semua. Deret ini aritmetika, cukup tambahkan selisih yang sama.
- Selisihnya membentuk pola sendiri (naik 2, berlipat dua, atau berulang). Lanjutkan pola selisih itu dulu, baru hitung suku berikutnya.
- Selisihnya acak, naik turun tanpa aturan. Tanda bahwa deret ini bukan satu barisan biasa. Coba pisahkan suku ganjil dan genap, atau coba perbandingan (dibagi), atau coba penjumlahan dua suku sebelumnya.
Kalau selisih tingkat pertama belum teratur, tulis selisih dari selisih itu (tingkat kedua). Sebagian besar deret bertingkat di SKD sudah teratur di tingkat kedua.
Catatan
Selisih dihitung dari suku kanan dikurangi suku kiri. Kalau hasilnya negatif, tulis tanda minusnya. Tanda yang hilang adalah sumber salah hitung yang paling sering pada deret turun.
Membaca bentuk barisan sebelum menghitung
Setelah terbiasa menulis selisih, Anda bisa mempercepat dengan melihat bentuk barisan dulu. Petunjuk di bawah ini adalah kecenderungan, bukan aturan. Gunakan untuk memilih pola mana yang dicoba pertama, lalu tetap buktikan dengan hitungan.
Petunjuk awal:
1. Jumlah suku yang diberikan
- 5 sampai 6 suku: sering satu barisan (aritmetika, geometri, bertingkat).
- 7 suku atau lebih: deret melompat patut dicoba, tapi deret
Fibonacci dan deret bertingkat juga sering diberi 7 suku.
2. Arah gerak angka
- Selalu naik atau selalu turun: biasanya satu operasi.
- Naik turun bergantian: operasi selang-seling atau deret melompat.
3. Laju perubahan
- Berubah pelan dan teratur: penjumlahan atau pengurangan.
- Berubah sangat cepat: perkalian, pangkat, atau pengali yang terus naik.
Contoh nyata bahwa petunjuk nomor 1 tidak bisa dipegang mutlak: barisan 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34 punya 7 suku, tapi bukan deret melompat. Polanya adalah penjumlahan dua suku sebelumnya. Kalau dipaksa dipisah ganjil dan genap, Anda mendapat 2, 5, 13, 34 dan 3, 8, 21, yang tidak punya pola sederhana. Ketika pemisahan tidak menghasilkan pola rapi, tinggalkan dan coba pola lain.
Enam pola deret yang sering muncul
1. Selisih bertingkat
Selisih tingkat pertama belum sama, tetapi selisih dari selisih itu sudah sama.
Deret: 3 5 9 15 23 ...
Tingkat 1: +2 +4 +6 +8 (+10)
Tingkat 2: +2 +2 +2 (+2)
Suku berikutnya = 23 + 10 = 33
Kesalahan yang sering terjadi adalah mengulang selisih terakhir (+8) sehingga menjawab 31. Ingat, yang konstan di sini adalah tingkat kedua, jadi selisih tingkat pertama harus dinaikkan dulu.
2. Melompat dua larik
Dua barisan berbeda dijalin bergantian. Suku di posisi ganjil mengikuti satu pola, suku di posisi genap mengikuti pola lain.
Deret: 4, 15, 7, 18, 10, 21, 13, ...
Larik ganjil (posisi 1, 3, 5, 7): 4, 7, 10, 13 (+3)
Larik genap (posisi 2, 4, 6): 15, 18, 21 (+3)
Suku ke-8 masuk larik genap: 21 + 3 = 24
Langkah yang sering terlewat adalah menentukan suku yang ditanya masuk larik mana. Hitung posisinya. Suku ke-8 adalah posisi genap, jadi jawabannya diambil dari larik genap, bukan dari 13 + 3.
3. Melompat tiga larik
Tiga barisan dijalin bergiliran. Bentuk ini terlihat acak karena setiap barisan hanya muncul tiap tiga posisi.
Posisi: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Suku: 2, 5, 20, 4, 8, 18, 6, 11, 16, ?
Larik 1 (posisi 1, 4, 7, 10): 2, 4, 6, ? (+2)
Larik 2 (posisi 2, 5, 8): 5, 8, 11 (+3)
Larik 3 (posisi 3, 6, 9): 20, 18, 16 (-2)
Suku ke-10 masuk larik 1: 6 + 2 = 8
Kalau pemisahan dua larik tidak menghasilkan pola, coba tiga larik. Jarang ada soal SKD yang memakai lebih dari tiga larik.
4. Penjumlahan suku sebelumnya (Fibonacci)
Setiap suku, mulai dari suku ketiga, adalah jumlah dua suku tepat sebelumnya.
Fibonacci murni:
1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, ...
(1+1=2, 1+2=3, 2+3=5, 3+5=8, 5+8=13, 8+13=21)
Variasi dengan awal berbeda:
3, 4, 7, 11, 18, 29, 47, ...
(3+4=7, 4+7=11, 7+11=18, 11+18=29, 18+29=47)
Cara mengenalinya: tulis selisihnya. Pada deret Fibonacci, selisihnya adalah barisan itu sendiri yang bergeser. Pada 3, 4, 7, 11, 18, selisihnya 1, 3, 4, 7, yang juga muncul di dalam deret. Ada juga variasi tiga suku (setiap suku = jumlah tiga suku sebelumnya), misalnya 1, 1, 1, 3, 5, 9, 17.
5. Dua operasi bergantian
Satu barisan memakai dua operasi berulang secara bergiliran, misalnya dikali 2 lalu ditambah 3.
Suku: 2, 4, 7, 14, 17, 34, 37, ...
2 × 2 = 4
4 + 3 = 7
7 × 2 = 14
14 + 3 = 17
17 × 2 = 34
34 + 3 = 37
Suku berikutnya: 37 × 2 = 74
Kalau selisihnya tampak berpola ganda (seperti +2, +3, +7, +3, +17, +3), angka +3 yang berulang di posisi genap adalah petunjuk bahwa ada operasi tetap yang bergantian dengan operasi lain.
6. Kuadrat atau kubik yang digeser
Angka-angkanya dekat dengan bilangan kuadrat (1, 4, 9, 16, 25, 36, ...) atau kubik (1, 8, 27, 64, 125, ...).
Bentuk n² - 1:
0, 3, 8, 15, 24, 35, 48, ...
Bentuk n² + 1:
2, 5, 10, 17, 26, 37, 50, ...
Deret kuadrat juga bisa dikenali lewat selisih. Selisih n² - 1 di atas adalah 3, 5, 7, 9, 11, 13, yaitu bilangan ganjil berurutan, dan selisih tingkat keduanya selalu 2. Jadi kalau Anda tidak langsung melihat kuadratnya, cara selisih bertingkat tetap akan sampai ke jawaban yang sama.
Tips
Hafalkan kuadrat 1 sampai 20 dan kubik 1 sampai 10. Angka seperti 63 (8² - 1 atau 4³ - 1) atau 126 (5³ + 1) jadi lebih mudah dikenali.
Kapan cara cepat ini tidak bisa dipakai
Petunjuk bentuk di atas membantu memilih pola pertama yang dicoba. Ada beberapa keadaan ketika petunjuk itu justru mengarahkan ke tempat yang salah.
Jumlah suku menipu. Deret 7 suku belum tentu melompat. Deret Fibonacci (Soal 3 dan Soal 7 di bawah) dan deret bertingkat panjang juga sering diberi 7 suku. Ujilah: kalau larik ganjil dan genap tidak masing-masing berpola rapi, berarti bukan deret melompat.
Arah naik turun tidak selalu berarti dua larik. Barisan 5, 10, 8, 16, 14, 28 naik turun, tapi itu satu barisan dengan operasi ×2 lalu -2 bergantian. Kalau dipisah, larik ganjil 5, 8, 14 dan larik genap 10, 16, 28 tidak berpola sederhana. Tanda bedanya: pada operasi bergantian, ada satu operasi yang tetap (di sini -2) di setiap langkah genap.
Pertumbuhan cepat bisa berasal dari penjumlahan. Deret 12, 14, 18, 26, 42, 74 tumbuh cepat, tapi rasionya tidak tetap (14/12, 18/14, dan seterusnya tidak sama). Polanya ada di selisih yang berlipat dua. Jangan langsung mencari pengali hanya karena angkanya membesar.
Satu deret bisa punya dua penjelasan. Deret 1, 2, 5, 14, 41 bisa dibaca sebagai "dikali 3 lalu dikurangi 1" atau "selisihnya 1, 3, 9, 27". Keduanya memberi suku berikutnya yang sama, jadi tidak masalah. Masalah muncul bila dua penjelasan memberi angka berbeda. Dalam keadaan itu, pilih pola yang cocok dengan semua suku yang diberikan, bukan hanya tiga suku pertama, lalu cocokkan hasilnya dengan opsi.
Soal menanyakan suku di tengah. Kalau yang hilang adalah suku di tengah, misalnya 3, 5, ?, 15, 23, cara "lanjutkan pola" tidak langsung bisa dipakai karena dua selisih di tengah tidak diketahui. Ambil selisih yang lengkap dulu: 5 - 3 = 2 dan 23 - 15 = 8. Dugaan paling sederhana adalah selisih 2, 4, 6, 8, sehingga suku yang hilang 5 + 4 = 9, dan 9 + 6 = 15 cocok. Kalau dugaan pertama tidak cocok di kedua sisi, cek opsi satu per satu.
Awas jebakan
Memasukkan opsi satu per satu ke dalam deret adalah cara sah, terutama ketika suku yang hilang ada di tengah. Opsi yang benar akan membuat seluruh selisih atau seluruh larik menjadi rapi. Opsi yang salah akan merusak pola di salah satu tempat.
Jebakan yang sering muncul di opsi
Pengecoh di soal deret hampir selalu berasal dari salah satu kesalahan ini. Mengenalinya membantu Anda curiga ketika jawaban terasa terlalu mudah.
| Kesalahan | Contoh | Hasil yang salah |
|---|---|---|
| Mengulang selisih terakhir pada deret bertingkat | 3, 5, 9, 15, 23 lalu +8 | 31, padahal 33 |
| Mengambil larik yang salah pada deret melompat | Suku ke-8 dihitung dari larik ganjil | Angka dari larik lain |
| Melompat satu suku terlalu jauh | Menghitung suku ke-9 padahal ditanya suku ke-8 | Suku sesudah jawaban |
| Menganggap semua deret Fibonacci | Menjumlahkan dua suku terakhir tanpa memeriksa | Angka yang jauh lebih besar |
| Lupa bagian kedua operasi | ×3 - 1 hanya dihitung ×3 | Selisih 1 dari jawaban |
Polanya selalu sama: pengecoh dibuat dekat dengan jawaban yang benar. Kalau dua opsi berbeda sangat tipis, misalnya 365 dan 366, hampir pasti salah satunya adalah hasil lupa satu langkah.
Contoh dikerjakan langkah demi langkah
Sebelum latihan, ikuti satu contoh dari awal sampai akhir.
Deret: 6, 7, 10, 15, 22, 31, ...
Langkah pertama, tulis selisih tingkat pertama.
6 7 10 15 22 31
+1 +3 +5 +7 +9
Langkah kedua, perhatikan bahwa selisihnya adalah bilangan ganjil berurutan. Selisih tingkat kedua selalu +2. Jadi selisih berikutnya adalah 9 + 2 = 11.
Suku berikutnya = 31 + 11 = 42
Langkah ketiga, periksa ulang dengan cara lain. Selisih berupa bilangan ganjil berurutan adalah ciri kuadrat. Coba kurangi setiap suku dengan 6: 0, 1, 4, 9, 16, 25. Itu kuadrat 0 sampai 5. Suku berikutnya adalah 6² + 6 = 42. Dua cara memberi hasil yang sama, jadi jawabannya meyakinkan.
Contoh soal
Soal 1
Suku berikutnya dari deret 4, 6, 9, 13, 18, 24, ... adalah...
A. 29
B. 30
C. 31
D. 32
E. 42
Lihat jawaban dan pembahasan
Jawaban: C
Pembahasan: Tulis selisih setiap dua suku berdekatan.
4 6 9 13 18 24 (?)
+2 +3 +4 +5 +6 (+7)
Selisihnya naik 1 setiap langkah, jadi selisih berikutnya +7. Suku berikutnya = 24 + 7 = 31.
- A salah karena menambahkan +5, selisih yang sudah lewat, sehingga 24 + 5 = 29.
- B salah karena mengulang selisih terakhir (+6), sehingga 24 + 6 = 30. Ini kesalahan khas deret bertingkat.
- D salah karena melompati satu langkah selisih dan menambahkan +8, sehingga 24 + 8 = 32.
- E salah karena menganggapnya deret Fibonacci dan menjumlahkan dua suku terakhir, 18 + 24 = 42.
Soal 2
Suku berikutnya dari deret 3, 8, 9, 14, 27, 20, 81, ... adalah...
A. 32
B. 26
C. 87
D. 101
E. 243
Lihat jawaban dan pembahasan
Jawaban: B
Pembahasan: Angkanya naik turun dan selisihnya tidak berpola, jadi coba pisahkan posisi ganjil dan genap.
Larik ganjil (posisi 1, 3, 5, 7): 3, 9, 27, 81 (×3)
Larik genap (posisi 2, 4, 6): 8, 14, 20 (+6)
Suku berikutnya adalah suku ke-8, masuk larik genap:
20 + 6 = 26
- A salah karena melompat satu suku larik genap terlalu jauh: 26 + 6 = 32 adalah suku ke-10.
- C salah karena menerapkan pola larik genap (+6) pada suku terakhir 81, sehingga 87.
- D salah karena menjumlahkan dua suku terakhir, 20 + 81 = 101, seolah deret Fibonacci.
- E salah karena melanjutkan larik ganjil (81 × 3 = 243), padahal suku ke-8 adalah posisi genap.
Soal 3
Suku berikutnya dari deret 5, 7, 12, 19, 31, 50, 81, ... adalah...
A. 112
B. 131
C. 143
D. 162
E. 212
Lihat jawaban dan pembahasan
Jawaban: B
Pembahasan: Deret ini punya 7 suku, tetapi bukan deret melompat. Larik ganjil 5, 12, 31, 81 dan larik genap 7, 19, 50 tidak berpola sederhana. Coba penjumlahan dua suku sebelumnya.
5 + 7 = 12
7 + 12 = 19
12 + 19 = 31
19 + 31 = 50
31 + 50 = 81
Suku berikutnya: 50 + 81 = 131
- A salah karena mengulang selisih terakhir (81 - 50 = 31), sehingga 81 + 31 = 112.
- C salah karena mengira selisihnya berlipat dua, lalu menambahkan 31 × 2 = 62, sehingga 81 + 62 = 143.
- D salah karena menggandakan suku terakhir (81 × 2 = 162), atau menjumlahkan tiga suku terakhir (31 + 50 + 81 = 162).
- E salah karena melompat satu suku: 81 + 131 = 212 adalah suku sesudah jawaban.
Soal 4
Suku berikutnya dari deret 2, 4, 12, 48, 240, ... adalah...
A. 288
B. 480
C. 1.200
D. 1.440
E. 1.680
Lihat jawaban dan pembahasan
Jawaban: D
Pembahasan: Angkanya membesar cepat, jadi periksa pembagian antarsuku.
2 4 12 48 240 (?)
×2 ×3 ×4 ×5 (×6)
Pengalinya naik 1 setiap langkah. Suku berikutnya = 240 × 6 = 1.440.
- A salah karena menjumlahkan dua suku terakhir, 48 + 240 = 288.
- B salah karena memakai pengali pertama (×2) untuk semua langkah, sehingga 240 × 2 = 480.
- C salah karena mengulang pengali terakhir (×5), sehingga 240 × 5 = 1.200.
- E salah karena melompati satu pengali dan memakai ×7, sehingga 240 × 7 = 1.680.
Soal 5
Suku berikutnya dari deret 100, 95, 90, 80, 70, 55, ... adalah...
A. 25
B. 35
C. 40
D. 45
E. 50
Lihat jawaban dan pembahasan
Jawaban: C
Pembahasan: Tulis selisihnya.
100 95 90 80 70 55 (?)
-5 -5 -10 -10 -15 (-15)
Setiap pengurang muncul dua kali, lalu naik 5. Pengurang -15 baru muncul sekali, jadi yang berikutnya masih -15. Suku berikutnya = 55 - 15 = 40.
- A salah karena menghitung satu suku terlalu jauh: 40 - 15 = 25 adalah suku sesudah jawaban.
- B salah karena mengira pengurang langsung naik menjadi -20, sehingga 55 - 20 = 35. Peserta lupa setiap pengurang dipakai dua kali.
- D salah karena memakai pengurang -10, yang sudah selesai dipakai dua kali, sehingga 55 - 10 = 45.
- E salah karena kembali ke pengurang awal -5, sehingga 55 - 5 = 50.
Soal 6
Suku berikutnya dari deret 1, 2, 5, 14, 41, 122, ... adalah...
A. 244
B. 365
C. 366
D. 367
E. 203
Lihat jawaban dan pembahasan
Jawaban: B
Pembahasan: Ada dua cara membaca deret ini, dan keduanya memberi hasil sama.
Cara 1: selisih berupa pangkat 3
1 2 5 14 41 122 (?)
+1 +3 +9 +27 +81 (+243)
Suku berikutnya = 122 + 243 = 365
Cara 2: dikali 3 lalu dikurangi 1
(1 × 3) - 1 = 2
(2 × 3) - 1 = 5
(5 × 3) - 1 = 14
(14 × 3) - 1 = 41
(41 × 3) - 1 = 122
(122 × 3) - 1 = 365
- A salah karena mengalikan suku terakhir dengan 2 saja, 122 × 2 = 244.
- C salah karena lupa mengurangkan 1, hanya menghitung 122 × 3 = 366.
- D salah karena menambahkan 1 alih-alih mengurangkannya, 366 + 1 = 367.
- E salah karena mengulang selisih terakhir (+81), sehingga 122 + 81 = 203.
Soal 7
Suku berikutnya dari deret 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, ... adalah...
A. 47
B. 55
C. 68
D. 89
E. 42
Lihat jawaban dan pembahasan
Jawaban: B
Pembahasan: Deret 7 suku ini adalah deret Fibonacci, bukan deret melompat.
2 + 3 = 5
3 + 5 = 8
5 + 8 = 13
8 + 13 = 21
13 + 21 = 34
Suku berikutnya: 21 + 34 = 55
- A salah karena mengulang selisih terakhir (34 - 21 = 13), sehingga 34 + 13 = 47.
- C salah karena menggandakan suku terakhir, 34 × 2 = 68.
- D salah karena melompat satu suku: 34 + 55 = 89 adalah suku sesudah jawaban.
- E salah karena salah mengambil selisih dua langkah sebelumnya (+8), sehingga 34 + 8 = 42.
Soal 8
Suku berikutnya dari deret 12, 14, 18, 26, 42, 74, ... adalah...
A. 106
B. 116
C. 138
D. 148
E. 266
Lihat jawaban dan pembahasan
Jawaban: C
Pembahasan: Tulis selisihnya.
12 14 18 26 42 74 (?)
+2 +4 +8 +16 +32 (+64)
Selisihnya berlipat dua setiap langkah. Suku berikutnya = 74 + 64 = 138.
- A salah karena mengulang selisih terakhir (+32), sehingga 74 + 32 = 106.
- B salah karena menjumlahkan dua suku terakhir, 42 + 74 = 116.
- D salah karena menggandakan suku terakhir, 74 × 2 = 148. Angkanya memang hampir dua kali lipat, tapi tidak tepat.
- E salah karena melompat satu suku: 138 + 128 = 266 adalah suku sesudah jawaban.
Soal 9
Suku ke-10 dari deret 1, 10, 50, 3, 13, 45, 5, 16, 40, ... adalah...
A. 56
B. 35
C. 19
D. 7
E. 9
Lihat jawaban dan pembahasan
Jawaban: D
Pembahasan: Pemisahan dua larik tidak rapi (larik ganjil 1, 50, 13, 5, 40). Coba tiga larik.
Larik 1 (posisi 1, 4, 7, 10): 1, 3, 5, ? (+2)
Larik 2 (posisi 2, 5, 8): 10, 13, 16 (+3)
Larik 3 (posisi 3, 6, 9): 50, 45, 40 (-5)
Suku ke-10 masuk larik 1: 5 + 2 = 7
- A salah karena menjumlahkan dua suku terakhir, 16 + 40 = 56.
- B salah karena melanjutkan larik 3, 40 - 5 = 35, padahal posisi 10 milik larik 1.
- C salah karena melanjutkan larik 2, 16 + 3 = 19.
- E salah karena melompat satu langkah di larik 1: 7 + 2 = 9 adalah suku ke-13.
Soal 10
Suku berikutnya dari deret 3, 8, 15, 24, 35, ... adalah...
A. 46
B. 48
C. 49
D. 50
E. 63
Lihat jawaban dan pembahasan
Jawaban: B
Pembahasan: Setiap suku adalah kuadrat dikurangi 1: 2² - 1, 3² - 1, 4² - 1, 5² - 1, 6² - 1. Lewat selisih hasilnya sama.
3 8 15 24 35 (?)
+5 +7 +9 +11 (+13)
Suku berikutnya = 35 + 13 = 48 = 7² - 1
- A salah karena mengulang selisih terakhir (+11), sehingga 35 + 11 = 46.
- C salah karena lupa mengurangkan 1, hanya menghitung 7² = 49.
- D salah karena menambah 1 alih-alih mengurangkannya, 7² + 1 = 50.
- E salah karena melompat satu suku: 8² - 1 = 63 adalah suku sesudah jawaban.
Soal 11
Suku berikutnya dari deret 5, 10, 8, 16, 14, 28, ... adalah...
A. 56
B. 30
C. 26
D. 24
E. 52
Lihat jawaban dan pembahasan
Jawaban: C
Pembahasan: Angkanya naik turun, tapi pemisahan ganjil dan genap (5, 8, 14 dan 10, 16, 28) tidak menghasilkan pola rapi. Coba dua operasi bergantian.
5 × 2 = 10
10 - 2 = 8
8 × 2 = 16
16 - 2 = 14
14 × 2 = 28
Suku berikutnya: 28 - 2 = 26
- A salah karena terus mengalikan 2 tanpa memperhatikan giliran, 28 × 2 = 56.
- B salah karena menambahkan 2 alih-alih mengurangkannya, 28 + 2 = 30.
- D salah karena mengurangkan 4, seolah pengurangnya ikut naik, 28 - 4 = 24.
- E salah karena melompat satu suku: 26 × 2 = 52 adalah suku sesudah jawaban.
Ringkasan
- Cara yang selalu bisa dipakai: tulis selisih tiap dua suku berdekatan, lalu selisih tingkat kedua bila perlu.
- Jumlah suku, arah gerak, dan laju perubahan hanya petunjuk awal untuk memilih pola yang dicoba pertama, bukan aturan pasti.
- Deret melompat dibuktikan dengan memisahkan larik. Kalau tiap larik tidak berpola rapi, berarti bukan deret melompat.
- Pada deret melompat, tentukan dulu posisi suku yang ditanya masuk larik mana.
- Pada deret Fibonacci, setiap suku mulai suku ketiga adalah jumlah dua suku tepat sebelumnya.
- Pada operasi bergantian, satu operasi muncul tetap di setiap langkah yang sama.
- Hafalkan kuadrat 1 sampai 20 dan kubik 1 sampai 10 untuk mengenali deret kuadrat yang digeser.
- Pengecoh biasanya berasal dari mengulang selisih terakhir, lupa satu langkah operasi, mengambil larik yang salah, atau melompat satu suku terlalu jauh.
Sudah selesai membaca?
Tandai selesai supaya progres belajarmu tersimpan di perangkat ini.
Sudah paham? Uji di soal harian
10 soal SKD baru setiap hari, lengkap dengan ranking dan pembahasan.
Coba soal harian